Random Thoughts: Dari Nasi Goreng Mawut Hingga Menyambut Gubernur Jakarta yang Baru

Posted on

Bagi kalian anak kost pasti pernah makan di tempat makan yang sering disebut Burjo. Walaupun memiliki beragam macam nama seperti Kasih Ibu, Tiada Tara, dan lain sebagainya, kita pasti menyebutnya Burjo baru diikuti embel-embel nama Burjonya. Selain menyediakan bubur kacang ijo (bahkan ada juga yang tidak), Burjo juga menyediakan beragam macam pakanan lainnya, sebut saja salah satunya adalah nasi goreng mawut.

Nasi goreng mawut adalah nasi yang digoreng namun ditambah mie di dalamnya. Dapat dibayangkan berapa banyak karbohidrat dan lemak yang terkandung di dalam makanan tersebut, sudah pasti dan dijamin tidak sehat bagi kesehatan, namun bagi anak kost, makanan tersebut adalah penyelamat di kala lapar setelah seharian mengerjakan tugas kuliah di kamar kost dan baru bisa keluar kala tengah malam.

Hari ini saya membuat nasi goreng mawut yang tidak kalah enak dengan buatan abang-abang burjo (setidaknya menurut versi saya sendiri). Nasi goreng mawut buatan saya enak karena selain menggunakan bumbu instan yang kadar dan takarannya sudah pas, di tambah bumbu dari mie instan sehingga dapat dibayangkan rasa gurih yang diberikan oleh mecin hasil bumbu instan dan bumbu mie instan bercampur disana. Selain enak, tentunya akan membuat kita lama-lama menjadi generasi mecin (versi netizen) atau dengan kata lain menjadi semakin bodoh (karena berdasarkan penelitian, kebanyakan mengkonsumsi mecin dapat berbahaya bagi otak). Namun tetap saja saya makan karena memang saya sedang lapar siang ini.

Selain hasil dari bumbu yang penuh akan mecin, ternyata ada satu faktor lagi yang tidak dapat kita nafikan dari enaknya sebuah makanan, yaitu faktor si pembuat makanan (istilah kekiniannya adalah koki). Sudah tentu kalian akan menilai saya sangat subjektif menilai makanan yang saya buat adalah makanan yang enak, karena saya sendiri yang membuat dan saya sendiri yang memakannya, ditambah saya makan dikala saya lapar sehingga makanan apapun rasanya tetap enak. Tapi kalian tidak akan dapat menafikkan bahwa setiap tangan individu memiliki cita rasa tersendiri yang membuat sebuah makanan menjadi lezat. Hanya di tangan koki tertentulah yang dapat membuat makanan apapun menjadi lezat saat di cicipi di lidah kita. Beda koki beda rasa.

Hal yang sama saya rasa juga berlaku bagi seorang pemimpin. Pemimpin dapat disamakan dengan koki yang membuat suatu masakan. Dengan tangannya koki dapat menciptakan makanan yang enak ataupun tidak, begitu juga dengan pemimpin, dengan tangannya seorang pemimpin dapat menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera ataupun tidak. Namun satu hal yang pasti, setiap koki memiliki perbedaan yang menjadi ciri khas dalam rasa masakannya, begitu juga dengan pemimpin, setiap pemimpin memiliki perbedaan yang menjadi ciri khas kepemimpinannya. Oleh karena itu tidak baik jika kita menilai buruknya baiknya koki tanpa mencicipi terlebih dahulu masakannya. Hal yang sama juga berlaku bagi seorang pemimpin, tidak baik kita menilai baik burunya seorang pemimpin sebelum kita merasakan berada dibawah kepemimpinannya.

Esok tanggal 16 oktober 2017, Jakarta akan merasakan pergantian periode kepemimpinan. Dari Ahok-Djarot menjadi Anies-Sandi. Tentunya pergantian kepemimpinan ini harus kita rayakan dan sambut dengan baik, dan tentunya juga tidak lupa bahwa tugas kita sebagai rakyat Indonesia khususnya Jakarta harus mengawal keberjalanan kepemimpinan yang baru. Satu hal yang pasti, akan terdapat perbedaan gaya kepemimpinan antara Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi.

Saya sendiri sebagai warga Jakarta cukup tertarik untuk melihat perubahan-perubahan yang di ibu kota Indonesia ini. Dahulu saya memang tidak terlalu merasakan kepemimpinan Ahok-Djarot karena saya harus kuliah di tepi sungai bengawan Solo, Jawa tengah. Saya hanya merasakan 9 bulan kepemimpinan Jokowi-Ahok yang kala itu dipilih oleh warga Jakarta menggantikan pertahana yaitu Fauzi Bowo. 9 bulan awal bukan lah waktu yang cukup untuk menilai kapabilitas dan kualitas seorang pemimpin. Namun yang saya rasakan adalah ada angin cerah yang akan dibawa oleh kedua orang ini, yang pertama Jokowi berasal dari Solo (tempat saya kuliah) yang pertama kali saya kenal saat ia membawa mobil SMK ke Jakarta untuk di uji emisi, lalu wakilnya adalah Ahok yang saya kenal berasal dari kaum minoritas sehingga akan sangat seru untuk melihat duet kepemimpinan kedua orang ini. Namun apa daya, saya hanya merasakan 9 bulan kepemimpinan mereka berdua yang mana sedang dalam masa transisi.

Dua tahun berlalu, tepatnya tahun 2014, Jokowi dipilih oleh rakyat Indonesia menjadi Presiden RI. Sehingga tapuk kepemimpinan Jakarta harus dialihkan ke wakilnya yaitu Bapak Basuki Tjahaya Purnama dengan menggandeng wakil gubernur dari mantan bupati Blitar yaitu Bapak Djarot. Sudah barang tentu, saya juga tidak merasakan kepemimpinan dibawah mereka berdua. Namun satu hal yang pasti saya rasakan ketika saya sudah selesai kuliah dan harus balik ke Jakarta lagi adalah mereka berdua telah memberi banyak kontribusi bagi pembangunan di Jakarta.  Diluar kontroversi yang menyangkut mereka berdua, saya harus mengakui kinerja mereka untuk mulai membangun MRT, merapihkan bantaran kali, merevitalisasi taman kota dan sungai-sungai di Jakarta, merenovasi sekolah-sekolah, membangun monorail, membangun taman ramah anak, memperbaiki pelayanan birokrasi di Jakarta, membongkar kalijodo dan menjadikannya skatepark membuat rusun-rusun dan merelokasi warga dari kawasan kumuh ke rusun, hingga membangun simpang susun semanggi yang dahulu dikenal dengan salah satu penyebab kemacetan di kawasan Sudirman. Setidaknya hal tersebutlah yang saya rasakan dari masa kepemimpinan kedua orang ini.

Nah kembali lagi ke acara pelantikan gubernur baru yang akan berlangsung esok hari. Saya rasa kita patut bersuka cita menyambut adanya kepemimpinan baru yang tentu kita harapkan janji-janji kampanyenya dapat mereka penuhi salah satunya adalah DP 0%. Tentu, kita juga tetap akan menjadi pengawal bagi kepemimpinan baru ini untuk dapat memiliki kinerja yang bagus bahkan kalau bisa lebih bagus dari kepemimpinan sebelumnya, karena semakin baik kerja pemimpin, akan kembali kepada rakyatnya yang menikmati buah kerja si pemimpin. Namun jika kinerja pemimpin jelek maka yang sengsarapun adalah rakyatnya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda antara satu dengan yang lain, oleh karena itu patut kita tunggu apa saja inovasi dari kedua pemimpin ini dalam memimpin ibu kota.

Sangat lucu jika kita malah menilai atau setidaknya meragukan kepemimpinan yang baru bahkan sebelum mereka bekerja. Kita memang harus kritis, namun sikap kritis kita harus kita tunjukkan saat mereka berdua sudah bekerja sebagai gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Jika apa yang mereka lakukan tidak membawa perubahan bagi Jakarta dalam tahun-tahun kedepan di Jakarta, maka kewajiban kita mengkritisi mereka. Jika janji-janji politik mereka tidak dapat mereka penuhi maka juga kewajiban bagi kita untuk mengingatkan bahkan mendorong mereka untuk melunasi janji-janji mereka.

Saatnya kita menyambut kepemimpinan baru di Jakarta dengan suka cita dan penuh harapan akan masa depan Jakarta yang lebih baik. Bukankah karena harapan Jakarta menjadi lebih baik maka sebagian besar warga Jakarta memilih mereka berdua sebagai pemimpin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s